pramukanet's Fan Box

pramukanet on Facebook
Showing posts with label Indonesia Scout Of Movement. Show all posts
Showing posts with label Indonesia Scout Of Movement. Show all posts
" REVITALISASI " by Indonesia Scout Of Movement ( Master Plan )

LATAR BELAKANG
Adanya kemunduran Gerakan Pramuka, yakni :
1. Eksistensi dan peran Gerakan Pramuka yang semakin berkurang.
2. Keterlambatan menyesuaikan diri atas berbagai perubahan yang terjadi.
PENGERTIAN
Revitalisasi Gerakan Pramuka adalah pemberdayaan Gerakan Pramuka yang dilakukan secara sistematis, berkelanjutan dan terencana untuk lebih meningkatkan peran, fungsi dan tugas pokok Gerakan Pramuka serta memperkokoh eskistensi organisasi Gerakan Pramuka.

HAKEKAT REVITALISASI GERAKAN PRAMUKA
1. Eksis dan hidup dinamis.
2. Keseimbangan dengan tetap mempertahankan tradisi yang baik (back to basic), disamping melakukan inovasi
3. Berdayaguna dan disukai kaum muda

TUJUAN REVITALISASI
1.GP dapat diterima dan diminati oleh kaum muda sebagai pilihan dalam proses belajar berorganisasi.
2.GP dipercaya sebagai wahana membentuk watak dan mengembangkan kepribadian kaum muda
3.GP dengan Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan melaksanakan kegiatannya secara cerdas dan gemilang dapat membantu menangkal serta membantu menyelesaikan berbagai masalah kaum muda
4.GP dapat diterima sebagai institusi yang menyelenggarakan pendidikan bela negara

MODAL DASAR REVITALISASI
1. Legalitas :kepres no 238 th 1961,
2 Kepres no 104 th 2004 ,
3. Keputusan Kwarnas no 086 th 2005 ,
4. Sambutan presiden ri tgl 14 agustus 2006 ,
5. Strategy for scouting th 2002
6. Visi dan misi , strategi , rentra
7. Program kerja Gerakan Pramuka.

KONDISI KAUM MUDA DAN GERAKAN PRAMUKA SAAT INI
1.Meningkatnya jumlah kaum muda yg tidak bisa melanjutkan pendidikan, terlibat kriminal, pengguna nafza, melakukan hubungan seksual yang tidak syah menurut agama, melakukan aborsi, melakukan tindak kekerasan, perkelahian dan tawuran.
2.Jumlah anggota Gerakan Pramuka kurang lebih 21.000.000 orang
3.Mayoritas anggota GP belum menghayati sistem nilai gp, pengurus dan organisasi GP tidak aktif dan jarang berkarya serta gugus depan GP tidak menyelenggarakan kegiatan kepramukaan sebagaimana mestinya
4.Sistem GP belum dapat diterapkan dengan seksama
5.Kendala yang dihadapi : infrasturktur dan manajemen GP belum terbarukan sesuai dengan perubahan lingkungan strategis, penerapan prinsip dasar kepramukaan belum dilakukan secara konsisten dan terus menerus, pembinaan anggota dewasa belum dilakukan dengan baik, kerjasama kemitraan belum dilakukan secara maksimal dan dasar hukum GP belum cukup kuat.

PEMIKIRAN DASAR REVITALISASI GERAKAN PRAMUKA
1.Perkuat Gerakan Pramuka sebagai Wadah pembentukan kader bangsa
2.Raih keberhasilan melalui kerja keras secara cerdas dan ikhlas
3.Ajak kaum muda meningkatkan semangat bela negara
4.Mantapkan tekad kaum muda sebagai patriot pembangunan
5.Utamakan kepentingan bangsa dan negara di atas segalanya
6.Kokohkan persatuan dan kesatuan Negara Republik Indonesia
7.Amalkan Satya dan Darma Pramuka

LANGKAH STRATEGIS R EVITALISASI GERAKAN PRAMUKA
1.Memperkuat kepemimpinan dan manajemen kwartir di semua jajaran
2.Merapatkan barisan Pembina Pramuka, Pelatih Pembina dan Andalan serta Majelis Pembimbing
3.Mengaktifkan Perindukan Siaga, Pasukan Penggalang, Ambalan Penegak dan Racana Pandega sebagai media penguatan sesama dan antar kelompok sebaya gugus depan
4.Memantapkan penerapan Prinsip Dasar Kepramukaan, Sistem Among dan Metode Kepramukaan.
5.Mengutamakan program peserta didik yang berdampak positif terhadap peningkatan semangat bela negara
6.Memperkokoh kemitraan dan dukungan sumberdaya dari semua komponen bangsa
7.Mengamalkan Satya dan Darma Pramuka

SASARAN REVITALISASI
1.Sumber Daya Manusia (SDM) : Peserta Didik, Pembina, Pelatih Pembina ,Pamong, Instruktur dan Pimpinan Saka, Staf Sekretariat, Anggota Dewasa.
2.Organisasi : Mekanisme kerja, struktur dan personil, daya kerja, kerjasama.
3.Motode Pendidikan : Kurikulum, Silabus, sistem penyampaian materi pendidikan, pembinaan dan permainan serta fasilitas pendukung.
4.Materi Pendidikan : Pendalaman jenis kegiatan/permainan, pengembangan kreatifitas materi pembinaan/permainan, pengkajian materi pendidikan bagi Pembina dan Pelatih Pembina.

KEGIATAN KEPRAMUKAAN SEBAGAI DUKUNGAN TERHADAP REALISASI REVITALISASI GERAKAN PRAMUKA
1.Pelatihan kepemimpinan dan manajemen organisasi
2.Seleksi calon pemimpin, latihan dan regenerasi kepemimpinan
3.Penyertaan kaum muda dalam pengambilan keputusan
4.Penyelenggaraan temu giat secara berkala
5.Pertukaran peserta didik di dalam dan luar negeri
6.Penyertaan peserta didik dalam acara kenegaraan
7.Penumbuh kembangan Gugus Depan Wilayah
8.Pengembangan permainan edukatif, kreatif, menantang, menarik dan bermanfaat
9.Penyelenggaraaan pendidikan bela negara
10.Realisasi karya nyata
11.Penyelenggaraan program Pramuka Peduli
12.Pembentukan Tim Penanggulangan Bencana
13.Penyelenggaraan kegiatan usaha
14.Pembangunan kerjasama kemitraan

INDIKATOR KEBERAHASILAN REVITALISASI
1.Pembina semakin professional membimbing Peserta Didik dan kuantitasnya memadai
2.Pelatih Pembina kuantitas dan kualitasnya cukup
3.Peserta Didik semakin antusias dan aktif mengikuti pendidikan kepramukaan
4.Pamong dan Instruktur Saka semakin aktif membina dan melatih
5.Dana operasional kegiatan kepramukaan kwartir semakin memadai
6.Sarana dan prasarana semakin lengkap
7.Kejasama kemitraan semakin banyak dilakukan
8.Masyarakat antusias membentuk Gugus Depan Wilayah
9.Kwartir dan gugus depan semakin efisien dan efektif dalam melaksanakan kegiatan
10.Bakti masyarakat semakin banyak dilakukan
Age groups

Gerakan Pramuka is divide in two major educational groups: the member section and the adult section. The first is divided in further age-groups with different educational systems, the second provides the leaders and supports the younger members.

The age-groups are:

* Cub Scouts (Siaga) – ages 7 to 10
o Siaga Mula
o Siaga Bantu
o Siaga Tata
* Scouts (Penggalang) – ages 11 to 15
o Penggalang Ramu
o Penggalang Rakit
o Penggalang Terap
* Rover Scouts – ages 16 to 20
o Penegak Bantara
o Penegak Laksana
* Pandega – ages 21 to 26
o Pandega
Scout Law (Dasa Dharma)

* Believe in God the Almighty
* Preserve nature and love each other
* Be an affable and knightly patriot
* Be obedient and collegial
* Help others with compliance and resilience
* Be diligent, skilled and cheerful
* Be provident and simple
* Exercise discipline, be brave and faithful
* Be accountable and trustworthy
* Have purity in mind, word and act
History

Scouting came to Indonesia in 1912, as a branch of the Nederlandse Padvinders Organisatie (NPO, Netherlands Pathfinder Organisation). After 1916 it was called the Nederland Indische Padvinders Vereeniging (Netherlands Indies Scout Movement). Other Scouting organizations were established by the Indonesia Scouts in 1916. As the Dutch East Indies, Indonesia had been a branch of the Netherlands Scout Association, yet Scouting was very popular, and had achieved great numbers and standards.

When Indonesia became an independent country, there were more than 60 separate Boy Scout and Girl Guide organizations. Most were directly affiliated with some certain political parties or social groups. Attempts were made to unify all Scout organizations into one.

The thousands of islands made administration and supervision difficult, and the Japanese occupation caused some twenty separate Scout organizations to spring up, and it took time for them to coalesce. In September 1951 thirteen of the stronger Scout organizations met and decided to found a federating body to satisfy national and international needs. Ikatan Pandu Indonesia - Ipindo for short - came into being. Tuan Soemardjo was elected chief commissioner, and Doctor Bahder Djohan, an old Scout and Minister of Education, became honorary President. Government approval of Ipindo was granted on February 22, 1952, and president Sukarno consented to become Patron of the unifying and correlating National Scout Council. Indonesia has been a member of WOSM since 1953.

This resulted in the establishment of a single Scout Movement in Indonesia called "Gerakan Pramuka". In May of 1961, the President of Indonesia signed a regulation making Gerakan Pramuka the official Scout organization in Indonesia.

Gerakan Pramuka is a former member of the World Association of Girl Guides and Girl Scouts, having left WAGGGS and joined WOSM also for the girls in 2002.

After Sri Sultan Hamengkubuwono IX, other Indonesian recipients of the Bronze Wolf, the only distinction of the World Organization of the Scout Movement, awarded by the World Scout Committee for exceptional services to world Scouting, include Abdul Azis Saleh in 1978, John Beng Kiat Liem in 1982 and Retired Lieutenant General Mashudi in 1985.